Korek Api

Wednesday, November 26, 2008

Yoga

-berita-


Umat Islam di Malaysia dilarang ber-yoga karena dikhawatirkan akan melunturkan akidah agamanya. Begitu kira-kira inti sebuah artikel pendek yang saya baca kemarin.


Ah, sampai kapan sih kita akan jadi sedemikian picik dan menutup diri. Mungkin karena iman kita lemah, keyakinan kita tak teguh sehingga kita merasa perlu mengatur dan melarang sekian banyak hal. Yang ini halal, yang tak kita kenal haram. Sudah lupakah kita bahwa kemajuan peradaban Islam seribuan tahun yang lalu terjadi karena umat Islam membuka diri pada ilmu dan pengetahuan dari Yunani dan India? Ketertutupan adalah langkah pertama kemunduran. Semoga bangsa kita cepat sadar dan tahu mana yang benar dan mana yang sebentuk ketololan.

Thursday, November 20, 2008

Tanpa Judul

-dari hati-

Tuhan, kenapa kau tak pernah menemaniku lagi jalan-jalan pagi?

Pergi bersama Ketiadaan-Mu: rasa syukur dan kerendahatian di hidupku.

Tuhan, aku merindu-Mu.. menatap wajah tampan-Mu..

juga pelukan-Mu yang menyemangati hari-hariku.

Aku ingin dengar lagi guyonan-Mu dan tawa yang terbahak-bahak.


Brisbane, 20 November 2008

11:30 Malam

Sunday, November 02, 2008

Aku



Semua ini dimulai dari kebingunganku. Kemudian, kebingungan itu menyebar kepada mereka yang mencoba memahami apa yang sedang ku lakukan, juga kepada mereka yang mencoba membantu. Di sini faktornya bukanlah (lagi) orang lain atau perusahaan tempatku bekerja, tapi (hanya) akulah yang bisa mengakhirinya.


Kebingungan itu lahir dari dua sisi: cahaya dan gelap. Cahaya di sini mewakili kesadaran, kata hati. Dan kegelapan adalah rasa takut dengan segala penalarannya. Cahaya itu suatu hari menyoroti satu sisi dalam kehidupanku yang selalu aku nihilkan, mencoba ku matikan, tapi tak pernah berhasil. Dalam kegelapan aku berdiri, sendiri, takut akan apa yang akan terjadi di luar apa yang selama ini telah nyaman aku jalani. Hari-hari ini aku kembali pada kesimpulan itu: Cukup sudah!


Aku sudah tak bisa lagi menjalani kehidupan yang sekarang sedang aku lalui. Rasanya seperti menjalani kehidupan orang lain; kering dan kehilangan elemen terpenting yang membuat hidupku ini berharga dijalani: aku.


Mungkin momennya tidaklah tepat. Ini adalah sebuah ujian yang teramat sulit. Dunia sedang menghadapi resesi. Pertumbuhan negeri-negeri yang menggerakkan perekonomian dunia seperti Cina sedang melambat, bahkan pertumbuhan di Amerika minus. Uang tidak lagi berarti banyak. Mata uang dolar australia jatuh dan banyak perusahaan memperketat pengeluarannya. Gelap itu makin mencekam!


Aku tak punya back up; aku harus memulai segala sesuatunya dari mula lagi.. menatanya satu demi satu. Aku harus memulai dari mencari pekerjaan (atau menciptakannya sendiri). Aku mengerti kekhawatiran kakak dan ibu. Tapi menjalani hidup seperti ini sama seperti sesak nafas yang berkepanjangan. Aku telah lupa bagaimana rasanya 'udara segar' yang menyesak masuk memenuhi paru-paru. Dan kini aku telah memilih untuk Hidup!


Masa perpanjangan dua bulan yang sebentar lagi berakhir ini sebenarnya hanya alasanku untuk menunda 'peperangan'. Aku tidak butuh Karen Wood untuk menentukan masa depanku. Aku tidak butuh tawaran permanen dari BHP Billiton. Yang aku perlu sebenenarnya sederhana saja: aku ingin menjadi diriku sendiri. Tapi sebelumnya aku harus menemukan 'Sang Diri' itu. Cukup sudah aku membingungkan dan merepotkan orang-orang. Apapun yang akan terjadi di ujung jalan nanti akan ku hadapi dengan lapang dada.


om bhuur bhuwah swah

tat savitur varenyam

bhargo dewasya dhiimahi

dhiyo yo nah pracodayaat.



Blackwater, 2 November 2008

9:24 Malam