Korek Api

Sunday, February 05, 2006

The Convergence Road

Mayrra melangkahkan kaki belalangnya cepat-cepat. Sepatu hak tingginya membuat bunyi-bunyi dalam ketukan teratur. Matahari sedang terik dan ia terlambat.

---

"Gading atau biru?"

"Terserah mama aja..," percuma Mayrra memutuskan, toh akhirnya pilihan sang Mama-lah yang selalu terjadi. Seperti juga dengan Shah, calon suaminya.

"Gading selalu cocok dengan warna kulitmu."

Mayrra benci warna gading. Pucat.

Hp dalam tasnya bergetar.

"Hallo, Mas. ... Lagi sama Mama di penjahit. ... Mmmh, nanti siang gak bisa, Mas. Aku ada janji ma client.. penting banget. Ya, May tahu, besok Mas udah harus pergi... Ntar malem..mmmh. Okay. ... Bye."

"Siapa, May?"

"Mas Shah. Udah selesai khan, Ma... May harus balik ke kantor. May ikut aja apa kata Mama...", Mayrra meninggalkan hanya suara dan bunyi ketukan sepatunya.

---

Shah menutup telepon genggamnya. Lalu, membukanya lagi dan menekan nomor lain.

"Hi San... gue free siang ini. ... Oke. Tempat biasa ya..."

Shah mengambil kunci dalam jasnya yang tersampir, lalu melangkah ringan menuju pintu.

---

"Gue kopi aja, Gas. Masih kenyang."

Mayrra menyilangkan kakinya. Bagas memanggil pelayan.

"Gimana persiapannya?"

"Gue gak mau ngomongin soal itu sekarang, Gas."

"Sorry, ... "

Siang itu, Mayrra terlihat sedih tapi bahagia, bahagia tapi sedih.

---

"Khan udah gue bilang berapa kali.. Masa gue yang harus ngurusin hal-hal begini. You wasting my time. Lo coba dulu deh.. Call me kalo lo mentok, okay.."

Sandra keluar dari mobilnya. Rambutnya yang tergerai melambai sekenanya.

"Shah..! Shah..!" Sandra melambaikan tangannya ke atas.

Siang itu, mereka bertemu.

---

"...oh ya? Kapan?" Mayrra mencondongkan badannya ke depan.

"Semalem. Dia sms gue," Bagas mengambil handphone-nya, lalu membuka inbox message-nya.

Mayrra membaca pesan singkat itu, dan mereka berdua tertawa.

"Gas.. gue akan kangen ma lo."

"Gue juga, May."

---

"San..."

"Apa?" Sandra mengambil gelasnya, lalu minum, menunggu Shah menyelesaikan kalimatnya. Siang itu. Sandra tampak cantik.

---

"Kapan lo berangkat?" Mayrra mencoba menikmati 'perpisahan' mereka ini.

"Jam sebelas pagi."

Bagas akan segera bergabung dengan National Geographic sebagai fotografer. Besok dia terbang ke New York. Cita-citanya sejak dulu. Kini, masa depannya telah terhampar dan masa lalunya sedang duduk di hadapannya.

---

"San, belakangan ini gue selalu dapet mimpi yang sama..."

Sudah sejak SMU Shah dan Sandra bersahabat. Banyak yang mengira kedekatan keduanya adalah karena cinta. Tapi Shah selalu bilang: tak ada hubungan yang lebih dalam daripada persahabatan, nggak juga cinta.

"Gue mimpi gue ada di depan altar.. sama May.. ada lo, ada Mama juga di sana.. kami pake baju pengantin.. gue bahagia banget. Tapi, pas gue noleh ke May, dia tiba-tiba mencair dan menghilang.. trus gue terbangun sambil triak-triak manggil-manggil namanya.. ... Kenapa sih gue ini!"

"Shah..," Sandra menatap mata sahabatnya itu dengan iba, "itu mungkin cuma karena lo grogi, ketakutan.. apalagi gak lama lagi kalian bakal nikah. Biasalah..."

"San, gue cinta banget ma May.."

---

"Gue jadi inget... Mama slalu bilang.. kalo' fotografer itu bukan kerjaan. Cuma yang pake kemeja-dasi dan punya kantor tetap yang bisa disebut 'kerjaan'..."

Mata keduanya menatap jauh tanpa fokus sepertinya mencoba menangkap kembali memori lama. Mamanya Mayrra menolak hubungan mereka.

"Tapi.. lihat lo sekarang...," Mayrra menatap Bagas bangga. "Gas... boleh ga, gue ikut lo ke NY?"

"Sebenernya May... gue ngerasa.. ngg.. lega waktu nyokap lo minta gue njahuin lo. Waktu itu gue gak bener-bener yakin dengan hidup gue sendiri. Gue gak pede.. sama kerjaan gue.. ma masa depan gue.. Gue punya banyak mimpi yang pingin gue kejar dan wujudin. Dan, gue sadar kalo mimpi-mimpi gue itu mungkin gak akan bisa ngebahagiain lo atau siapa aja yang nantinya mendampingi gue."

---

"Keliatannya nyata banget San... Gimana kalo mimpi itu pertanda? Gimana kalo May ninggalin gue.. Dan, belakangan ini gue ngerasa dia sering ngejauhin gue."

"Gue dah nglakuin apa yang lo bilang, San.. semua hadiah-hadiah.. candle-light dinner.. tapi, mungkin, May emang gak pernah mencintai gue..."

---

"Gue dah jenuh, Gas.. gue bahkan gak ngerti hidup gue sendiri. Gue iri sama lo yang punya mimpi.. dan percaya ma mimpi-mimpi lo itu.."

---

Malam. Sudah jam sembilan lebih.

Mayrra melongkok sekali lagi lewat jendela depan di ruang tamu. Sudah sejak sejam yang lalu ia siap pergi. Tubuhnya dibalur pakaian sutra hitam yang halus, hadiah Shah. Dia memastikan lagi tidak ada sms yang diterimanya dari Shah yang membatalkan acara malam ini. HP-nya juga tidak aktif.

Ia sadar, ia tak bisa pergi bersama Bagas. Bagas punya mimpinya, cintanya.. yang ternyata tidak ada Mayrra di sana. Keinginannya telah mengerucut, convergence road: ia ingin menikah saja dengan lelaki yang mencintainya. Mayrra menyerah. Ia berjalan masuk ke dalam kamarnya.

---

Shah mengecup kening Sandra. Dipandanginya tubuh Sandra yang tertidur di sampingnya. Malam itu Shah menemukan cintanya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home