Korek Api

Monday, May 15, 2006

From Bandung with Sampah!



Kebersihan adalah sebagian dari iman. Melihat kota Bandung yang tercinta ini dipenuhi timbunan sampah membusuk di mana-mana, sungguh sangat mengganggu mata dan yang pasti bau! Dan sampah bukan cuma berbentuk plastik atau organik lengkap dengan belatung-belatungnya, tapi juga sampah yang dikeluarkan mulut dan yang menggendap di dalam pikiran dan perbuatan kita nan kotor. Apa iya negeri ini sedang krisis kebersihan (baca: iman) juga? Oh...

Mungkin ketika negara lain ngeliat kondisi bangsa ini mereka akan bilang, "Asik-asik krisis ajah! Krisis ini-lah itu-lah... Keciaaaan dee lu." Ibarat-kata kita ini pesakitan yang gak tau lagi sebenernya sakit apa. Ada encok, ada reumatik, gangguan percernaan, sampai stroke ringan. Ke mana iman itu? Apa jangan-jangan sudah habis dibagi-bagi atau dikorupsi rame-rame? Hehehe..

Bayangkan, sudah sewindu (windu artinya periode 8 tahunan--in case ada dari Anda yang nggak tau artinya) kita berganti orde! Penasaran juga dengan orang yang mempopulerkan istilah ini.. kenapa kita selalu hidup dalam orde. Dulu ada Soekarno dengan ordenya yang oleh Orde Baru disebut sebagai Orde Lama, basi. Nah, ternyata yang baru pun bisa menjadi lama dan lapuk juga tak kalah basi. Setelah Orde--yang mengaku--Baru itu berakhir, ternyata tak lahir Orde Superbaru atau Orde Paling Gress, dsb. Ternyata yang nongol adalah sebuah orde yang serba repot dan penuh krisis: Orde Reformasi yang repot nasi.

Ada yang menyalahkan ekonomi kita yang bobrok sebagai penyebab krisis. Yang lain tak mau kalah mencari kambing hitam. Ada krisis moneter, krisis kebangsaan, krisis kesadaran sampai krisis moral. Banyak yang mengeluh, "Enakan juga jaman Soeharto. Serba tentram serba terkendali. Barang-barang juga serba murah."

Mungkin orang tadi ada benarnya juga. Lihat saja kebebasan yang kita dapat setelah Soeharto turun. Semua merasa berhak dan bebas mengetahui urusan pribadi orang--mulai dari siapa pacarnya saat ini sampai kapan cerainya, dst. Kebebasan juga diartikan secara ekstrem oleh saudara-saudara kita yang lain. Mereka merasa bebas untuk menimpuki kantor dan menghancurkan rumah-rumah biliar dengan mengusung-usung moral tanpa tahu bahwa sikap mereka itu juga tidak lebih bermoral dari pihak yang mereka serang. Ada juga yang merasa diri bebas mengatai orang lain sesat dan kemudian dilaknat tanpa pikir panjang.. bebas meneror mereka yang gak sependapat... Oh.. kebebasan menjadi senjata makan tuan!

Tapi, orang yang kangen Orba tadi juga gak sepenuhnya bener. Siapa bilang semuanya tentram? Mungkin memang riak-riak itu nggak keliatan di permukaan karena kesigapan aparat keamanan. Gimana bisa bersuara jika mulut dibungkam? Gimana mau berkonflik kalau belum apa-apa sudah diciduk? Emang air di embeeeer.. pake diciduk segala. Ibaratnya, jaman Orba itu sepi-sepi gunung merapi.. lhoh?

Bicara soal gunung Merapi yang sedang mules-mules. Oh iya.. saya sedang bicara soal gunung teraktif di dunia yang ada di tanah Jawa. Karena di ranah Minangkabau juga punya gunung dengan nama sama. Gak tau ya siapa yang meniru siapa. Konon, cerita Mak Lampir dan kawan-kawan yang berkisar di gunung Merapi itu aslinya juga bukan dari Jawa, tapi adalah kisah lokal di Sumatera Barat. Ngelantur deh...

Kembali ke gunung Merapi (yang di tanah Jawa). Meletusnya gunung ini jadi rebutan. Apa pasal? Entah, mungkin bagian dari perebutan simpati dan pengaruh. Siapa yang bisa memberi angka--jadi inget judi togel--tanggal kapan gunung ini akan muntah-muntah lava mungkin akan disambuti aplaus dan angkat topi. Gak cuma Balai Vulkanologi yang tebak-tebak buah manggis.. Mbah Maridjan dan--anehnya--Mbak Mega juga ikut-ikutan memasang taruhan!

Jika Mega hanya berani memberi angka--dan ternyata salah!--tanggal 6 atau 7 bulan mei ini sebagai 'D' Day.. maka Mbah Maridjan lebih patut diacungi jempol. Dua tangan! Dengan gagah berani, lelaki yang sudah menua namun tampak tetap segar itu menolak dievakuasi. Ia belum dapet mimpi Merapi akan meletus. Menurutnya, sekarang, Merapi cuma batuk-batuk saja. Maklum, musim flu burung. Wah! Orang-orang di Balai Vulkanologi harus banyak belar pada Mbah Maridjan! Sementara senjata mereka hanya seismograf dan teropong saja, Si Mbah punya kasur buat mimpi. Dan itu saja sudah cukup untuk membuat warga dusunnya ogah ngungsi. Bahkan kata-kata Sri Sultan Hamengkubuwono sendiri kalah pamor dengan Mbah Maridjan. Salut!

Mungkin Mbah Maridjan bisa ditanya satu hal lagi: kemana kaburnya Gunawan Santosa yang bagai David Copperfield bisa menembus tujuh lapis tembok LP (istilah halus untuk penjara) Narkotik Cipinang. Peristiwa itu memang bukan sulap bukan sihir.. tapi perkara sogok menyogok. Gunawan ternyata kongkalikong dengan seorang (nah ini masih jadi tanda tanya) sipir LP yang membuatkannya kunci untuk kabur. Hmm... masa cuma berbekal kunci saja bisa kabur... pasti ada udang di balik batu, ada kunyuk-kunyuk di dalam LP berbaju cokelat-cokelat menyamar sebagai aparat! Hmm... Dan gak cuma sekali Gunawan berhasil lolos, tapi tiga kali! Tepuk tangan!

Bicara soal tepuk tangan... ia tak terdngar di Sendai, Jepang. Di sana yang ada hanya kecewa.. lagi-lagi langkah tim Thomas Indonesia terjegal di babak semifinal. Sama dengan dua tahun lalu di Shanghai, China. Yang lebih miris lagi... tim Uber sama sekali gak masuk babak utama, karena terseok di babak penyisihan. Sebaliknya, China masih kampium!

Ah... capek juga ternyata ngomongin orang. Bicara sampah ternyata bikin mulut dan kentut bau! Eh, ternyata gak cuma sampah yang bikin negeri ini kampium joroknya... ternyata di sela-sela hiruk pikuk berita sampah, ada berita emas! Dalam olimpiade fisika se-Asia di Khazakhstan, Indonesia mendapat dua emas dan berada di urutan kedua klasemen keseluruhan. Yang ini... emang baru bener-bener pantes diteriaki: Bravo!

Oh iya.. berita duka buat Indonesia. Bung Pram, sastrawan kita yang dinominasi dapet Nobel itu telah berpulang. Mereka yang berada di sampingnya saat ajal menjemput--lalu saya yang terharu lalu ikutan--berseru, "Kami masih butuh Bung!" ... Negeri telah jadi sampah raksasa... sampah benda-benda dan juga manusia. Oh... (aku belum sempat minta tanda tangan di satu-satunya buku beliau yang sampe sekarang belum juga abis gw baca: Jalan Raya Daendles).

Sekian sampah-sampah dari saya...

Hari ini terlalu banyak "Oh..."

PS: buat PikiranRakyat.com, terima kasih buat fotonya. Saya jadi gak usah susah2 pasang bodi dan kamera di samping setumpuk sampah di tempat yang sebenarnya bukan tempat sampah.